Indonesia Menuju Rawan Pangan ?Ketika saya menyebut kerawanan pangan di Indonesia, bukan berarti tidak ada pangan sama sekali. Itu berarti dalam memenuhi kebutuhan pangan Indonesia sudah semakin bergantung kepada produk impor yang jumlahnya semakin besar dari tahun ke tahun. Inilah yang kita rasakan sekarang dengan kasus protesnya para pengrajin tahu dan tempe terkait dengan tingginya harga kedelai impor.

(lebih…)

Kang Popo, Sampeyan kok gak ceriwis kayak dulu lagi ? mbahas masalah2 ekonomi-sosial-politik negara kita? Apa Sampeyan udah kelu lidahnya ? Apa Sampeyan ini gak tertarik mbahas Ariel-Lunamaya ato Gayus, ato apa saja lah.

Kata Kang Gatot sambil menyantap sate usus di depanku.

Sekilas terbayang dibenakku yang butek ini peristiwa2 yang telah terjadi mulai dari kasus antasari, century, gayus, kemiskinan, pengangguran, demonstrasi, kerusuhan, DPR, bencana alam, pilkada, ariel-lunamaya-cut tari, rekening gendut polri, dana aspirasi dan masih banyak lagi.

Kang Popo kan makan sekolahan, paling tidak kan bisa memberi pencerahan2 terkait masalah terkini ketimbang cuma diam

Sambung Kang Gatot yang terlihat menikmati sate usus kesukaannya.

Hehe … Mas Gatot bisa aja
Lha saya ini bisanya apa to? wong saya juga kerjanya cuma buruh ketik nyambi jualan angkringan. Ndak pantes saya ini ngasih statemen2. Lha wong pikiran saya ini dah mumet buat mikir nafkah keluarga malah diminta mikir yang lain … Hehehe

Kalo boleh mengutip Mas Tukul Arwana, “Silent is Gold”, saya berprinsip buat apa ngomong sampe berbusa2 namun tidak ada tindak lanjutnya? Adalah lebih baik bagi saya apabila bisa Migunani Tumraping Liyan – Sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat bisa bermakna besar bagi orang lain. Berguna bagi sesama membuat hidup lebih berarti.

Masih banyak saudara2 kita disekitar kita yang membutuhkan kita, banyak yatim piatu yang membutuhkan kasih sayang kita, begitu pula saudara2 kita yang fakir lagi miskin, saudara2 kita yang sakit namun tidak bisa berobat, dan lain sebagainya.

Diam itu emas, Saudaraku … asalkan memiliki  kepedulian terhadap sesama.

uang pecahan 2000 baruBelum lama masuk bulan Ramadhan, sebagian masyarakat sudah mulai sibuk mencari pecahan uang baru untuk dibagi2kan di kampung halaman. Dari beberapa orang yang saya temui pecahan 2000-an lah yang paling banyak dicari masyarakat karena merupakan pecahan uang baru.

Mungkin bagi masyarakat kebanyakan munculnya pecahan uang baru 2000-an ini disambut dengan gembira. Namun bagi saya ini merupakan pertanda kemunduran ekonomi kita. Terbitnya pecahan uang 2000-an ini tak lain adalah inflasi.  Sejak Maret 2007, Bank Indonesia berencana menerbitkan uang kertas (UK) baru, pecahan Rp 2000,- dan Rp 20.000,- lalu menarik uang kertas Rp 1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp 1.000,- yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seri Kelapa Sawit (1993 – 2000). Dengan ditariknya pecahan 1000-an maka pecahan terkecil adalah 500-an, sedangkan koin 100-an dan 200-an bisa dipastikan tak lama lagi akan menghilang dengan sendirinya.

Inflasi maupun masalah2 moneter lainnya tidak perlu terjadi jika kita menggunakan standar emas dan perak dalam mata uang kita. Ketika dunia menggunakan emas dan perak sebagai mata uang, tidak pernah terjadi sama sekali masalah-masalah moneter, seperti inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan anjloknya daya beli. Profesor Roy Jastram dari Berkeley University AS dalam bukunya The Golden Constant telah membuktikan sifat emas yang tahan inflasi. Menurut penelitiannya, harga emas terhadap beberapa komoditi dalam jangka waktu 400 tahun hingga tahun 1976 adalah konstan dan stabil.

Dalam sistem Bretton Woods yang berlaku sejak 1944, dolar masih dikaitkan dengan emas, yaitu uang US$35  dapat ditukar dengan 1 ounce emas (31 gram). Namun pada 15 Agustus 1971, karena faktor ekonomi, militer, dan politik, Presiden AS Richard Nixon akhirnya menghentikan sistem Bretton Woods itu dan dolar tak boleh lagi ditukar dengan emas. . Mulailah era nilai tukar mengambang global yang mengundang banyak masalah. Dolar semakin terjangkit penyakit inflasi. Pada tahun 1971 harga resmi emas adalah US$38  per ounce. Namun pada tahun 1979 harganya sudah melonjak jadi US$450 per ounce.

Uang Dinar Emas

Percayakah anda bahwa harga 1 ekor kambing tidak berubah selama 14 abad? Pada jaman Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan bahwa harga seekor kambing berkisar antara 0.5 – 1 Dinar, dan itu belum berubah sampai dengan sekarang. Merujuk pada sistem dinar emas islam, maka 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas 22 karat. Maka 1 dinar emas saat ini setara dengan 1,3 juta rupiah.

Alih2 menjadi budak perbankan international yang menggunakan sistem riba, kita sebaiknya mulai berpaling ke sistem ekonomi islam yang menggunakan standar dinar-dirham sebagai mata uang yang telah terbukti tahan terhadap berbagai macam masalah moneter. Andai saja pemerintah mau memperhatikan dan mau meninggalkan sistem ekonomi kapitalis.

Ramadhan telah datang menghampiri kita, kembali kita terlarut dalam kesibukan peribadatan di dalam bulan yang mulia ini. Dulu semasa menjadi mahasiswa, bulan ramadhan adalah bulan yang penuh barakah bagi kami para mahasiswa dari golongan menengah ke bawah. Di bulan ramadhan waktu itu kami bisa menghemat hampir 50% lebih dari budget bulanan kami, meskipun untuk ukuran Yogyakarta waktu itu biaya hidup sehari2 masih tergolong murah. Karena di hampir setiap masjid selalu menyediakan menu takjil untuk berbuka puasa. Menu takjil itupun sangat variatif dari masjid ke masjid.

Bagi yang tinggal dilingkungan UGM mungkin masih ingat buka puasa bersama di gelanggang ugm, meskipun menu sangat sederhana (kadang ikan, kadang secuil telor) namun sangat bermakna. Jika menginginkan menu yang lebih bisa datang ke masjid2 yang cukup besar seperti masjid syuhada.

Berbeda dengan ketika menjadi mahasiswa, ketika telah berkeluarga anggaran belanja keluarga yang seharusnya juga turun (karena puasa) malah justru naik ± 25%. Karena harga kebutuhan pokok telah naik menjelang bulan ramadhan. Saya yang bodoh ekonomi ini tidak habis pikir, kenapa disaat orang mengurangi kebutuhannya justru harga malah naik ? Bukankah hukum ekonomi menyatakan harga kebutuhan berbanding lurus dengan permintaan ? Apakah permintaan justru naik di bulan Ramadhan ?

Menjelang bulan ramadhan, pemerintah telah menyatakan stok sembako untuk bulan ramadhan dinyatakan cukup. Berarti paling tidak pemerintah sudah mengantisipasi adanya kemungkinan permintaan yang naik di bulan ramadhan. Namun kenyataannya stok yang cukup tersebut tidak dapat mengantisipasi naiknya harga kebutuhan pokok di bulan ramadhan.  Masyarakat juga nampaknya sudah biasa menghadapi naiknya harga sembako di bulan ramadhan.  Masalahnya adalah kenapa harga sembako harus naik ? :D

MisterPopo ngaturaken sugeng siyam …  Happy Fasting!

Entah kenapa akhirnya saya terjerembab ke dalam keterbingungan politik (kosakatanya bener gak ya?), saya bukan tipe orang yang taklid/fanatik secara mambabi ngepet terhadap satu kandidat capres/cawapres. Saya juga bukan orang yang cuma bisanya cuma ikut2an saja. Saya cuma rakyat kecil yang pingin negeri ini menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, aman, damai, makmur dan sejahtera.

Saya belum memutuskan siapa yang akan saya pilih tgl 8 Juli nanti … atau mungkin bisa saja saya memutuskan untuk tidak datang ke TPS.  Saya khawatir negeri ini jatuh ke pihak yang salah. Bukankah kekhawatiran saya berdasar ? Seandainya pemimipin negeri ini hanya dipilih melalui forum musyawarah para alim (cendekiawan) dan ulama (pemuka agama) terpilih (bukan DPR/MPR sekarang lho) tentunya kekhawatiran saya tidak sebesar ini.

Swing Votter seperti saya ini paling2 hanya bisa memilih yang terbaik diantara yang jelek, dan itu pun saya masih bingung untuk memilih siapa.

So, who’s your President ?

Bebaskan Ibu Prita MulyasariRanah blog akhir2 ini tidak hanya di ramaikan oleh Drama Manohara Odelia Pinot saja. Tapi juga oleh seorang Ibu dengan dua anak batita yang dipenjarakan karena menulis surat pembaca. Ibu Prita Mulyasari (32 tahun) menulis bahwa dia menerima perlakuan medis dari RS Omni yang bukannya bikin dia jadi sembuh dan sehat, tapi malah jadi tambah sakit dan gak jelas diagnosanya. Ironisnya dia dipenjarakan karena berusaha mengungkapkan kebenaran ke publik setelah usaha2 untuk mendapatkan penjelasan dari RS Omni tidak memuaskan.

Berikut adalah tulisan Ibu Prita di surat pembaca:

RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

Bagi saya, orang yang berjiwa besar adalah yang orang yang mau menerima kritik dan saran serta mau mengakui kesalahannya … saya harap RS Omni demikian dan mau meminta maaf kepada Ibu Prita Mulyasari

UPDATE:

Sidang hari ini (08 Juni 2009) sudah selesai dengan agenda pembacaan dakwaan dari jaksa. Sidang akan dilanjutkan pada hari Kamis tanggal 11 Juni 2009 pukul 9.00 WIB

Kang Popo,
sampeyan mau ya jadi downline-ku
MLM yang ini dah ada SK Mentrinya koq, trus katanya juga ada sertifikat Halal dari MUI

Sekelumit pembicaraan di siang itu mengusik-ku untuk mengetahui lebih jauh perihal MLM yang ditawarkan. Tidak perlu menyebut nama dari program MLM tersebut. MLM yang diperbolehkan adalah yang memiliki produk untuk dipasarkan dan pembagian bonusnya dihitung dari margin keuntungan penjualan produk tersebut.

Margin yang didapat pertransaksi dari produk program MLM kita sebut saja MLM ‘X’ ini cukup rendah, sebut saja 10 rupiah per-transaksi. Anehnya pembagian bonus yang katanya memakai sistem mudhorobah ini cukup menggiurkan, karena upline juga mendapat bonus dari tiap perekrutan downline, sedangkan jika tidak terjadi perekrutan meskipun transaksi yang dilakukan cukup besar dan banyak pembagian bonusnya tidak signifikan.

Yang berkembang di masyarakat sekarang ini, termasuk Jeng Titis yang menawarkan program itu ke saya adalah mengandalkan perekrutan downline sebanyak2nya untuk mendapatkan bonus yang besar.  Seperti kita ketahui dalam ketentuan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah no 32 tahun 2008 yang dikeluarkan oleh DEPERINDAG soal pemasaran berjenjang dikatakan bahwa money game atau pemasaran terlarang cirinya adalah komisi didapat terutama berasal dari uang pendaftaran member baru dan pembelian HU/kavling.

Mungkin setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda-beda, namun bagi saya masih banyak peluang usaha lain yang bisa dicoba dengan tidak merugikan orang lain.  :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.