Jika Jakarta punya bus TransJakarta, maka sebentar lagi Jogja juga punya bus TransJogja. Bus Patas (cepat terbatas) ini segera dioperasikan di Jogja. Pembangunan 34 halte di beberapa titik di penjuru Jogja pun dikebut. Di beberapa tempat juga terdapat perluasan badan jalan dengan mengambil sebagian porsi trotoar di kiri dan kanan jalan. Masyarakat agaknya juga sudah tidak sabar menanti, meskipun dalam benak mereka terbersit pertanyaan “Mungkinkan bus patas ini bisa mengurangi problem lalu-lintas di Yogya yang sudah kelewat padat dan ruwet?”
Bagi sebagian mahasiswa yang kuliah di Jogja, bus kota menjadi sarana transportasi favorit bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi (seperti saya dulu) . Pengalaman2 tidak mengenakkan sudah mereka anggap biasa selama menggunakan bus kota tersebut. Mulai dari kebut2an, sampai diturunkan tidak pada tempatnya dengan alasan tidak jelas. Ditambah lagi kejahatan2 yang sering terjadi di atas bus kota, semakin membuat mereka tidak nyaman. Sehingga keberadaan transportasi massa yang cepat, aman dan nyaman sangatlah mereka idamkan.
Pertanyaannya adalah, dengan adanya bus patas bukankah jalanan di kota jogja akan semakin padat? Direktur JTT (Jogja Tugu Trans) Poerwanto Johan Riyadi menyatakan bahwasanya setiap pengoperasian 2 bus patas, maka 3 armada bus yang lama harus di tarik. Padahal jumlah calon bus patas yang ada sekarang sekitar 54 unit, berarti jika kesemuanya beroperasi maka akan mematikan 81 trayek bus reguler. Armada yang diberhentikan tersebut akan dibeli oleh JTT dengan kisaran harga 10-24 juta rupiah, tergantung kondisi bus.
Bus Patas ini memiliki kapasitas 22 tempat duduk, dengan AC dan pintu otomatis. Harga tiket diperkirakan 3 ribu rupiah untuk umum dan mahasiswa, 2 ribu rupiah untuk pelajar. Bus ini akan melayani 6 trayek dengan jarak tempuh masing2 armada 270~280 km per hari. Dengan jam operasi mulai jam 05.00~22.00 WIJO (waktu bagian Jogja).
Jogjakarta sekarang ini ibaratnya telah menjadi lautan sepeda motor, hampir di setiap ruas jalan dipadati oleh sepeda motor. Penggunaan sepeda motor ini dinilai lebih praktis dan ekonomis dibanding jika menggunakan transportasi umum seperti bus dan angkot. Mampukah Bus TransJogja membuat masyarakat berpaling dari kendaraan pribadi (terutama sepeda motor)? Kami tunggu kedatanganmu Bus TransJogja.
*Masih bermimpi jogja dipenuhi sepeda onthel ….

Desember 17, 2007 at 10:20 am
om udah punya gambar peta jalur yang akan di lewati oleh transjogja belum?
Desember 25, 2007 at 12:51 pm
kenapa jogja barat tidak disinggahi moda ini?
Desember 28, 2007 at 3:43 am
kalau nggak salah ada 3 jalur deh mas untuk transjogja ini. aku juga kemaren habis tanya2 sama orang di pemkot yang ikut ngurusi transjogja ini.
yoh, mugo-mugo jogja ra tambah ruwet mergo buswae… pye dab…?
http://ratsani.wordpress.com/2007/12/28/jogja-juga-mau-punya-busway/
Desember 28, 2007 at 6:20 am
wah, mau seperti di jakarta? kalau model halte dan tangganya seperti di jakarta, wah, enak tuh, karena selama ini aku paling takut nyebrang jalanan di jogja. tapi…. antrian dan copet pasti sangat merajalela.