Kang yanto, pemilik angkringan di mana aku biasa ngangkring, wadul kepadaku tempo hari.
Dab, angkringanku koq sepi banget yo sekarang”
Mendengar kata-kata itu hatiku jadi miris, apa ini karena pengaruh perubahan PTN menjadi BHMN?
Karena semenjak salah satu universitas negeri di jogja ini berubah menjadi BHN, berangsur-angsur nuansa kota pendidikan mulai luntur dari kota jogjakarta tercinta ini.
Sempat juga saya bertanya ke salah satu mahasiswa baru (teknik)  yang kebetulan ngekos deket rumah.
“Dik, sampeyan masuk U** habis berapa?”
“Waduh, berapa ya? Banyak Om, sumbangannya aja 10 jt, belum sama SPPnya”
“Lho koq gedhe banget?Lha yang gratis di angkatanmu ada ndak?”
“Satu angkatan di jurusanku 70 orang, gak ada yang gratis Om, rata-rata sumbangannya juga kisaran segitu”

Oalah,  perasaan dulu pas aku masuk kuliah, cuma habis 500rb, trus SPP juga masih 250rb. Pantesan dulu adikku yang yang pinter gak ketrima disini, lha wong dia ngisi sumbangannya cuma 300rb. Tapi untungnya masih diterima di PTN Semarang sana. Sedang ponakanku (yang tidak begitu pinter) bisa diterima di sini (jurusan sama) dengan sumbangan 9 jt.

Kalo saya boleh mengambil ukuran, lebih menjamurnya kafe dan mall di banding angkringan dan public space bagi masyarakat, menandakan tingkat konsumerism dari para mahasiswa yang bertandang ke jogja. Maaf apabila saya mengambil tolok ukur yang ngawur, namanya juga bacotan.
Kembali pada Kang Mas Yanto selaku pemilik angkringan, beliau mengimbangi persaingan angkringan vs kafe dengan membuka counter pulsa di angkringan-nya, Angkringan Cellular, cukup kreatif juga, tapi akan bertahan berapa lama?.

Maaf kalo tulisan saya dirasa menyakiti beberapa pihak, ini cuma sekedar bacotan saja, jangan diambil hati.