bismillahirrahmaanirrahiim

 

Telah menjadi bahan perdebatan di antara beberapa pihak dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan, dan perbedaan tersebut menurut saya bukanlah berkah, karena akan menjadikan perselisihan di antara umat. Perbedaan ini dikarenakan sistem penentuan awal bulan yang berbeda ( ru’yatul hilal vs hisab).

almaidah ayat 3

 

 

 

 

 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu (QS. 5 : 3)

al-hasyr

 

 

 

 

 

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah (QS . 59 : 7)

al-an'am

 

 

 

 

 

 

 

 

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. 6: 153)

 

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya. Jika ada mendung pada kalian, maka sempurnakanlah jumlah”. Muttafaqun alaihi [HR. Al-Bukhoriy (1810), dan Muslim (1081)]

“(Waktu)Puasa pada hari mereka berpuasa, dan berbuka (berhari raya) pada hari mereka berbuka (berhari raya), dan berkurban pada hari mereka berkurban”.[HR. Abu Dawud (2324), At-Tirmidziy (697), dan Ibnu Majah (1660)].

Dari hadist-hadist tersebut, telah jelas bagi kita bahwa kedudukan hisab dalam penentuan awal bulan maupun akhir bulan hanyalah sebagai pendukung saja, dan tidak dijadikan sebagai penentu. Karena ru’yatul hilal adalah murni ketentuan syar’i yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Semoga kita di hindarkan dari hal-hal yang menyelisihi sunnah beliau. Naudzubillahi min dzalik.

Berikut adalah fatwa dari al-Lajnah ad-Da’imah berkaitan dengan perbedaan penentuan awal/akhir Ramadhan
* Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 388) (sumber: al-atsary)

Soal : “Bagaimana pandangan Islam tentang perbedaan hari raya kaum muslimin: Iedul Fithri, dan Iedul Adhha. Di samping itu, telah diketahui bahwa hal itu bisa mengantarkan kepada pelaksanaan puasa pada hari yang haram puasa padanya, yaitu hari ied; mengantarkan kepada pelaksanaan buka puasa (hari raya) pada hari yang masih wajib berpuasa di dalamnya? Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan dalam masalah penting ini agar menjadi hujjah di sisi Allah”.

Jawab : “Jika mereka berselisih dalam perkara yang ada diantara mereka, maka mereka (harus) berpegang dengan keputusan penguasa di negara mereka, jika penguasanya adalah muslim, karena keputusan penguasa ini akan menghilangkan khilaf, dan mengharuskan ummat untuk mengamalkannnya. Jika penguasa bukan muslim, maka mereka harus memegang keputusan Mejelis Islamic Centre di negeri mereka, demi menjaga persatuan dalam puasa mereka di bulan Romadhon, dan pelaksanaan sholat ied di negeri mereka”.

 

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemerintah) di antara kamu.
(QS. 4: 59)