Desember 2007


Perjalanan di tahun 2007 ini penuh dengan banyak cobaan yang diberikan kepada bangsa Indonesia. Mulai dari munculnya berbagai macam bencana alam, berjangkitnya penyakit mematikan, kemiskinan, dekadensi moral, anarkisme, dan lain sebagainya.

Di penghujung tahun ini, sudah saatnya kita berinstropeksi diri, bukannya malah memenuhi kafe-kafe dan tempat hiburan malam untuk merayakan euforia tahun baru. Kurangnya sense of humanisme ini masih terlihat dengan akan dipenuhinya tempat2 hiburan di malam tahun baru, di saat banyak saudara2 kita yang tertimpa bencana masih dalam kondisi memperihatinkan. Tengok saja saudara2 kita yang tertimpa bencana banjir yang masih kekurangan bahan makanan.

Sekali lagi saya mengetuk hati sampeyan semua untuk mulai meninggalkan pesta pora euforia tahun baru dengan melakukan kepedulian terhadap sesama, membantu saudara2 kita yang masih membutuhkan bantuan kita.

Sekali lagi Lapindo Brantas Inc. menang atas gugatan legal standing yang diajukan oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menolak gugatan penggugat secara keseluruhan, dengan menilai bahwa semburan lumpur Lapindo hanyalah sebagai fenomena alam belaka. Suatu pemikiran yang sangat dangkal sekali dari para majelis hakim.

Memang betul semburan lumpur Lapindo hanyalah fenomena alam, namun fenomena itu dipicu oleh kesalahan Lapindo Brantas Inc. , apa yang ada di benak para majelis hakim? Apa mereka tidak memikirkan nasib penduduk Porong, Sidoarjo, yang kehilangan tempat tinggal mereka?  Apa perlu rumah dari para majelis hakim di tenggelamkan seperti di Porong agar mereka bisa merasakan penderitaan seperti warga masyarakat di sana?

Mari kita tegakkan lagi keadilan ekologi di Indonesia!

Hari ini, iseng2 buka portal berita kesukaan saya di angkringan om Yanto, ada berita gempa, banjir, kecelakaan, wah koq berita susah2 semua. Trus ada satu berita yang biasa tapi cukup menarik.

“Berita opo kuwi kang?” Tanya Om Yanto.
“Anu koq om, biasa….berita ekonomi dan bisnis, ben rada melek bisnis” Jawabku

Menarik menurut saya, karena dengan bersatunya Bank Pembangunan Daerah (BPD) seluruh Indonesia (yang tergabung dalam Asbanda), maka mereka akan menjadi raksasa dalam perekonomian perbankan di Indonesia yang mampu mengimbangi Bank2 besar baik milik pemerintah maupun swasta. Meskipun fitur2 yang ditawarkan dalam BPD-net Online ini masih sangat terbatas (setor tunai, mobile banking dan pembayaran). Namun bisa dikatakan bahwasanya hal ini bisa sebagai langkah maju mereka agar tidak lagi dikatakan bank kelas 2 yang hanya sebagai bank tempat pemerintah daerah menyimpan uang, atau bank tempat ngambil gajian PNS.

Untuk layanan BPD-net ini, masing2 BPD mengembangkan aplikasinya secara sendiri2. Biaya untuk out source diperkirakan 50~100 juta rupiah. BPD-net Online ini menghubungkan 1550 kantor cabang BPD di seluruh Indonesia dan terhubung dengan 12000 jaringan ATM Bersama. Dan dalam masa perkenalan ini tidak dikenakan fee/biaya atas transaksi yang dilakukan. Yang ada dalam benak saya waktu itu adalah bisa kirim uang ke adik saya yang nasabah Bank Jateng secara gratis, lumayan buat ngirit ongkos transfer, hehehehe.

Dari keterangan telik sandi yang saya dapatkan sesaat setelah mendapat berita tersebut, hampir semua BPD mengembangkan aplikasinya secara out-source, karena core-banking mereka yang juga sebagian besar dihandle oleh pihak ketiga. Namun yang membanggakan saya sebagai putra Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Bank BPD DI Yogyakarta mengembangkan aplikasinya secara mandiri (in-house development). Haha, salut dah buat Bank BPD DIY.

Selama ini saya nabung di BPD cuma karena biaya administrasi-nya yang paling minim di antara Bank2 lain (pelit mode : on). Ya, kalo bisa dengan biaya minimal mendapat layanan yang maksimal. Sekali lagi Congrats buat Bank BPD.

Cuma sekedar bantu, bapak2 di kepolisian DIY buat mempromosikan nomer2 telepon yang bisa di SMS jika terjadi sesuatu terkait pemberantasan penyakit masyarakat. Gara2nya beberapa hari yang lalu semenjak ada tempat perjudian terselubung di lingkungan tempat tinggal saya, mulai bermunculan pencurian2 terhadap rumah2 penduduk di sekitar tempat perjudian tersebut. Tetangga depan rumah sampe kehilangan 2 anthurium jenis jenmani yang harganya sampe jutaan, ibu mertua juga kecurian tanaman gelombang cinta-nya yang lupa di masukin ke dalam rumah. Wis jan, pokoke bikin jengkel. Mau grebek gak berani, karena ada bekingnya, belum lagi orangnya gedhe2 dan sangar2, bikin Pak RT ketar ketir.

Akhirnya nemu pengumuman ini:

Untuk pemberantasan penyakit masyarakat (judi dan lain-lain) di wilayah Yogyakarta, Polda DIY dan jajarannya membuka layanan telepon yang dapat dihubungi melalui SMS. Kepada masyarakat yang ingin mengirimkan informasi dan pengaduan serta memerlukan bantuan Polri dapat mengirimkan lewat SMS ke nomer telepon sebagai berikut:
Kapolda DIY – 7100110
Kapoltabes Yogyakarta – 7479135
Kapolres Sleman – 7479136
Kapolres Gunung Kidul – 7479138
Kapolres Kulon Progo – 7479139
Kapolres Bantul – 7131987

Jangan beri tempat buat penyakit masyarakat !

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Jika Jakarta punya bus TransJakarta, maka sebentar lagi Jogja juga punya bus TransJogja. Bus Patas (cepat terbatas) ini segera dioperasikan di Jogja. Pembangunan 34 halte di beberapa titik di penjuru Jogja pun dikebut. Di beberapa tempat juga terdapat perluasan badan jalan dengan mengambil sebagian porsi trotoar di kiri dan kanan jalan. Masyarakat agaknya juga sudah tidak sabar menanti, meskipun dalam benak mereka terbersit pertanyaan “Mungkinkan bus patas ini bisa mengurangi problem lalu-lintas di Yogya yang sudah kelewat padat dan ruwet?”

Bagi sebagian mahasiswa yang kuliah di Jogja, bus kota menjadi sarana transportasi favorit bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan pribadi (seperti saya dulu) . Pengalaman2 tidak mengenakkan sudah mereka anggap biasa selama menggunakan bus kota tersebut. Mulai dari kebut2an, sampai diturunkan tidak pada tempatnya dengan alasan tidak jelas. Ditambah lagi kejahatan2 yang sering terjadi di atas bus kota, semakin membuat mereka tidak nyaman. Sehingga keberadaan transportasi massa yang cepat, aman dan nyaman sangatlah mereka idamkan.

Pertanyaannya adalah, dengan adanya bus patas bukankah jalanan di kota jogja akan semakin padat? Direktur JTT (Jogja Tugu Trans) Poerwanto Johan Riyadi menyatakan bahwasanya setiap pengoperasian 2 bus patas, maka 3 armada bus yang lama harus di tarik. Padahal jumlah calon bus patas yang ada sekarang sekitar 54 unit, berarti jika kesemuanya beroperasi maka akan mematikan 81 trayek bus reguler. Armada yang diberhentikan tersebut akan dibeli oleh JTT dengan kisaran harga 10-24 juta rupiah, tergantung kondisi bus.

Bus Patas ini memiliki kapasitas 22 tempat duduk, dengan AC dan pintu otomatis. Harga tiket diperkirakan 3 ribu rupiah untuk umum dan mahasiswa, 2 ribu rupiah untuk pelajar. Bus ini akan melayani 6 trayek dengan jarak tempuh masing2 armada 270~280 km per hari. Dengan jam operasi mulai jam 05.00~22.00 WIJO (waktu bagian Jogja).

Jogjakarta sekarang ini ibaratnya telah menjadi lautan sepeda motor, hampir di setiap ruas jalan dipadati oleh sepeda motor. Penggunaan sepeda motor ini dinilai lebih praktis dan ekonomis dibanding jika menggunakan transportasi umum seperti bus dan angkot. Mampukah Bus TransJogja membuat masyarakat berpaling dari kendaraan pribadi (terutama sepeda motor)? Kami tunggu kedatanganmu Bus TransJogja.

*Masih bermimpi jogja dipenuhi sepeda onthel ….

Suasana angkringan sore ini terlihat agak panas, nada emosi, cacian, hujatan banyak terlontar dari para pengangkring. Hal ini dikarenakan berita ini. Kasus sengketa tanah di Jeneponto yang merenggut nyawa seorang polisi (Briptu Dasrin). Korban meninggal kembali bertambah dengan meninggalnya si pembunuh polisi tersebut (Muhammadong), dia menghembuskan nafasnya setelah mendapat perawatan di RS Bhayangkara, Makassar, Senin.

Yang menyebabkan kejengkelan di kalangan pengangkring adalah, bahwasanya Muhammadong meninggal karena disiksa oleh oknum2 polisi. Juniati, istri Muhamadong mengungkapkan bahwa sebelum suaminya meninggal sempat bercerita bahwa dirinya mendapat siksaan oknum polisi selama dirawat di RSU Jeneponto.

“Suamiku bilang, kalau polisi menendang kemaluannya hingga bengkak. Kemudian kembali menembak betisnya dan tidak diberi makan selama dua malam di rawat RS Jeneponto. ” Kata Juniati

Selama di rawat di RS Jeneponto, Polisi juga tidak membolehkan dia di jenguk oleh keluarganya. Dia juga menceritakan bahwa ada empat butir peluru yang bersarang di betisnya yang baru dikeluarkan di RS Bhayangkara Makassar. Karena mengalami infeksi kaki Muhamadong pun diamputasi.

Jika anda melihat di TV,  Muhamadong (berpakaian hitam dan berpeci) tidak mungkin dia akan mati kalau hanya tertembak di kaki. Brutalisme polisi harusnya tidak perlu terjadi jika mereka bertindak profesional.

Jika nyawa dibalas nyawa, terus kemana perginya slogan polisi yang selalu digembar-gemborkan ‘jangan main hakim sendiri’ ?

Berikut adalah tanggapan para pengangkring sore tadi :
– Kang Yono : Ada dua jenis orang di dunia ini, orang baik dan polisi.
– Kang Jimin: Polisi juga manusia, punya rasa, punya belati
– Toink : polisi = preman pasar berseragam resmi yang berhak memegang senjata api
– Sudar: Pajak di bayar rakyat untuk gaji polisi, beli senjata dan menindas rakyat
bayar pajak = keluar uang buat disiksa
hari gini bayar pajak? apa kata dunia?

Setelah disebut2 sebagai departemen terkorup di indonesia, ditambah lagi dengan tragedi Jeneponto, semoga Kapolri bisa menyikapinya dengan arif dan segera melakukan perbaikan2.

Masih dalam hingar bingar Konferensi Perubahan Iklim ( UN Climate Change Conference ), presiden SBY mencoba beberapa kendaraan berbahan bakar ramah lingkungan yang ada di sana. Salah satunya adalah bus dengan bahan bakar blue energy. Blue energy adalah energi yang didapat dari perbedaan konsentrasi antara air laut dan air tawar. Dua metode yang biasa di gunakan adalah Reverse Electrodialysis dan Preassure Retarded Osmosis. Metode ini telah dikembangkan di Belanda dan Norwegia untuk kepentingan komersial.

Saya cuma membayangkan, apa jadinya ya kalo akhirnya penggunaan minyak tergeser oleh blue energy ini. Apa mungkin negara2 teluk sebagai negara penghasil minyak terbesar di dunia akan bangkrut? Dan kita sebagai negara maritim akan semakin sejahtera karena tidak ada lagi krisis energi? 😀

Laman Berikutnya »