Januari 2008


Jika anda seumuran saya, tentunya akan timbul pertanyaan seperti di benak saya,

Kemana perginya swasembada pangan yang dulu kita banggakan?

Swasembada pangan, kata2 itu masih terngiang2 dalam benak saya semenjak dari SD. Dalam pelajaran sejarah kita telah diberitahu bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan di tahun 1984. Namun akhirnya hal itu tergerus dengan perjalanan waktu (cuma bertahan 2~3 tahun). Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, profesi petani adalah profesi yang mereka anggap rendah, orang menjadi enggan untuk menjadi petani, mereka cenderung lebih memandang pekerjaan sebagai pegawai kantoran meskipun cuma office boy/cleaning service. Dengan melambungnya harga properti, banyak petani yang menjual sawah2 mereka kepada para konglomerat, yang kemudian menyulap sawah2 tersebut menjadi hutan beton, baik berupa perumahan, pabrik, maupun gedung2 perkantoran.

Selain karena berkurangnya lahan pertanian yang tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk di Indoenesia, hilangnya swasembada pangan juga dikarenakan ketidakberpihakan pemerintah kepada para petani. Semakin banyak pupuk palsu yang beredar di masyarakat seharusnya membuat pemerintah kembali fokus pada masalah ketahanan pangan bangsa ini yang semakin terancam. Demi untuk mencapai kembali swasembada pangan seharusnya pemerintah mulai membenahi seluruh sistem misalnya dengan memberikan jaminan harga serta ketersediaan pupuk dan pestisida, ketersediaan bibit, serta memberdayakan kembali BULOG sebagai penyetabil harga komoditas pangan.

Seiring perkembangan ekonomi global, tugas pokok BULOG yang dulunya bertugas membantu persediaan dalam rangka menjaga kestabilan harga bagi kepentingan petani maupun konsumen dan mengelola persediaan beras, gula, tepung terigu, kedelai dan bahan pangan lain, pada tahun 1997 dipersempit hanya mengendalikan harga dan mengelola persediaan beras dan gula. Yang kemudian pada tahun 1998 dipersempit kembali fokus pada komoditas beras.

Seharusnya di tengah lonjakan harga komoditas pangan dunia, jika saja kita masih bisa mempertahankan swasembada pangan, maka kita akan menjadi negara paling makmur di antara negara2 lain. Sayang sekali kebijakan2 pemerintah tidak konsisten kepada swasembada pangan dan lebih memilih industrialisasi.

ex-President Soehart
Inna lillahi, wa inna ilaihi raji’uun
Kullu man alaiha faan wa yabqa wajhu rabbika dzal jalaali wal ikram

Every living being is mortal, the one and only who will stay eternal is the almighty God

Indonesia is in great sorrow, our ex-president, Mr Mohammad Soeharto, finally passed away after struggling with his illness. Born on June 1921, Soeharto was one of great mans ever lead this country. He left no statues of himself, no parks or roads were named after him, and only on special occasions did you see his face up on billboards, although in the last years of his rule it did appear on the largest-denomination banknote. Under his presidency, investment from the West was encouraged and Indonesia enjoyed rapid economic growth. A systematic plan so called “Repelita” bring Indonesia into self sufficient food(rice) country in 1984. But the Asian financial crisis in 1997 provoked a wave of unrest among the poor, students and the burgeoning middle class, which led to his overthrow.

List of medal of honor from all over the world for his dedication and reputation:

  • The Raja of the Order of Sikatuna (Filipina)
  • Grand Collier of the Order of Sheba (Ethiopia)
  • Grand Collier de L’ordre National de L’Independenee (Kamboja)
  • Order van de Nedherlandse Leeuw (Belanda)
  • The Order of the Golden Ark (Commander) (Belanda)
  • The Most Auspicious Order of Rajamitrabhom (Thailand)
  • Darjah Utama Sri Mahkota Negara (DMN) (Malaysia)
  • Darjah Kerabat Diraja Perak Darul Ridwan (Malaysia)
  • Sonderstufe des Grosskreuzes Special Order of the Grand Cross (Rep.Fed. Jerman)
  • Grand Collier (Italia)
  • Grosses Stem des Ehreinzeicbens Fuer Verdienste Um dic Republic Oesterreich (Austria)
  • Grand Croix de la Legion D’Honneur (Praneis)
  • Grand Cordon Order de Leopold (Belgia)
  • Order of the Great Yugoslav star (Yugoslavia)
  • Mubarak Al Kabir’s Necklace (Kuwait)
  • Ommayad Zul Wusyah (Syiria)
  • Independenee Necklace (Qatar)
  • Grand Collar of the Nile (Republik Arab Mesir)
  • Bintang Badar (Saudi Arabia)
  • The Grand Order of mugunghwa (Korea Selatan)
  • The Order of the Socialist Republic of Romania First Dass (Rumania)
  • Star of the Socialist Republic of Romania First Dass With Ribbon (Rumania)
  • Order of Al-Hussein Bin Ali (Yordania)
  • Darjah Kerabat Mahkota (Brunei Darussalam)
  • Knight Cross of the Order of the Bath (GCB) (Inggris)
  • Satyaleneana Pahlavi (Iran)
  • Grand Cordon of the Supreme Order of the Chry–santhenum (Jepang)
  • Medali dari Pemerintah Pakistan (Pakistan) Nisham I (Pakistan)
  • Grand Collar de la Orden Americana de Isabel la Catolica (Spanyol)
  • Collar de La Order Del Libertador (Venezuela)
  • From Rice Imforter to Self Sufficieney (berhasil di Bidang SwaSembada Beras FAO)
  • Golden Order of Merit (IAAF)
  • Medali Emas Avicenna (UNESEO)
  • The United Nations Population Awward (Berhasil di Bidang KB) (The Population
  • Institute Global Statesman Award)
  • Health for all Gold Medal (Berhasil di Bidang Kesehatan-WHO)
  • The “Spirit of Helen Keller” Award (Helen Keller Intemational)

God bless you, may you rest in peace Mr. H Mohammad Soeharto

in memoriam Soeharto

Kaget, itulah respon saya sewaktu pemerintah akhirnya membuat kebijakan untuk menurunkan harga kedelai di pasaran dengan menetapkan tarif Rp 0.00 untuk impor komoditi kedelai. Kebijakan ini seolah2 bisa menekan harga kedelai di pasaran, padahal kenaikan harga kedelai bukan karena tingginya tarif impor komoditas tersebut di Indoenesia, melainkan karena naiknya secara umum harga komoditas perkebunan/pertanian di dunia. Kebijakan yang nyeleneh dan terkesan pemerintah hanya memandang memasalah dengan cara pandang pedagang (apa karena yang mimpin biasa bakulan di pasar?) . Malah mereka berusaha mencari alternatif impor dari negara yang lain, apa ini gak lucu?.

Setelah era Pak Harto (reformasi dst), sistem ketahanan pangan kita bisa dibilang carut-marut, amburadul gak karuan, cuma dipenuhi kebijakan2 yang menguntungkan sebagian pihak . Dulu di era orde baru kita bisa swasembada beras di tahun 1984, sekarang kita menjadi importir beras terbesar di dunia.

Pemerintah dalam hal ini departemen pertanian harusnya membuat kebijakan2 untuk merevitalisasi pertanian terutama di komoditi2 pokok, dengan memberi insentif pada para petani tersebut. Misalnya dari segi benih, pupuk, maupun dari segi penjualannya, sehingga petani tidak merasa malas menanam komoditas seperti kedelai karena takut harganya murah.

Adanya praktek oligopoli dalam penjualan komoditas kedelai ini perlu juga diselidiki. Karena dari kenaikan harga komoditas kedelai yang mencapai lebih dari 100%, petani kedelai hanya menerima keuntungan sebesar 18%. Normalnya dengan kenaikan harga sebesar itu, petani paling tidak menikmati minimal keuntungan sebesar 30~40 %. Dan harus ada tindakan dari pemerintah untuk para pelaku oligopoli tersebut.

Kemana perginya swasembada pangan yang dulu kita bangga2kan!!!!

Artikel terkait:

Meroketnya harga kedelai di pasaran membuat banyak para pengrajin tempe dan tahu menghentikan produksinya. Hal ini berimbas ke bisnis2/usaha perdagangan yang terkait dengan makanan jenis tempe dan tahu ini, termasuk usaha angkringan.

Di jogja, tempe masih bisa ditemukan, bu lik saya yang jualan nasi masih bisa bernapas lega, meskipun harganya jadi agak mahal namun masih bisa diakali dengan mengurangi porsi nasi dan membuat tempe gorengnya lebih tipis dan lebih kecil serta menambah tepungnya. Hal itu juga dilakukan tetangga2 saya yang mayoritas pengusaha angkringan dan warung nasi. Tapi apa bakalan terus2an kayak gini. Bisa2 tempe dan tahu bukan lagi menjadi makanan rakyat karena saking mahalnya bahan baku kedelai.

Lain lagi dengan para pengrajin tahu dan tempe, selain dengan menaikkan harga jual tahu dan tempe mereka juga melakukan beberapa strategi. Antara lain dengan mencampuri bahan dasar pembuatan tempe itu sendiri dengan kacang2an jenis kacang merah (koro). Ada juga yang murni bahan dasarnya dari kacang koro sehingga di sebut tempe koro. Meskipun tidak seenak tempe kedelai namun tempe koro bisa menjadi pelampiasan bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan tempe kedelai.

Semoga pemerintah bisa segera mengatasi permasalahan per-kedelai-an ini

Foto Divx HDD Media Player
Kemaren dulu barusan beli Divx HDD Media Player, bentuknya dan ukurannya seperti foto di atas. Gadget ini dah pernah di review sama seseorang di id-wordpress, tapi lupa alamatnya. Cuman dia blom punya barangnya pas tak tanya dulu, trus diminta cari sendiri di glodok. Lha saya kan di jogja ? Masak harus jauh2 nyari ke glodok sono?

Back to Divx HDD Media player, wujudnya adalah hardisk (namanya juga HDD) yang bisa dicolok langsung ke monitor atau layar TV buat nyetel Film, Musik atau Photo. Film yang di support oleh gadget ini antara lain *.wmv, *.dat, *.mpeg, *.avi, mpeg-4 (divx), DVD, VCD dll. Audio yang di support antara lain *.wma, *.mp3, *.wav, cd audio dll. Sedangkan untuk gambar hanya *.jpeg dan *.tiff . Oh iya, gadget ini juga support film2 ber subtitle *.srt, *.sub dll. Gadget ini sangat cocok buat para kaum film donloders….wkwkwkwk.
Slot SD dan MMC
Disediakan juga slot SD dan MMC yang bisa langsung di kopikan ke hardisk dengan one touch button. Dulu pernah ada yang menawarkan ke saya barang semacam ini di salah satu forum, tapi testimoni dari para pembeli sebelumnya menyatakan barang tersebut belum support DivX terbaru, untung gak jadi beli. Kalo yang ini saya beli di alnect dengan harga 375rb (blom termasuk hardisk-nya).

Tampak BelakangTampak DepanBungkusnya

Perlu diingat ini bukan review, ini cuma ajang pamer saja 😀

Sudah beberapa hari ini saya dipusingkan dengan melonjaknya anggaran kebutuhan rumah tangga dan angkringan. Semua itu dipicu oleh naiknya harga bahan kebutuhan pokok dan kenaikan harga minya dunia. Pusing juga kalo sudah berumahtangga, harus mikir kebutuhan anak dan istri. Untungnya sampai sekarang masih bisa dipenuhi meskipun bisa dikatakan sangat ngirit.

Salah satu alternatif untuk menomboki / sebagai cadangan yang ada sekarang adalah dengan menagih utang yang sudah saya berikan kepada warga angkringan. Cuma sayangnya saya merasa ndak enak kalo harus nagih, nanti dikiranya saya medit, kikir alias bakhil. Padahal umur piutang2 saya udah cukup lama, bahkan ada yang sampai kisaran tahunan. Udah tanpa bunga, langsung cair, tanpa agunan, tapi koq baliknya lama. Yang jadi masalah adalah tidak adanya perjanjian hitam di atas putih mengenai kapan pembayaran akan dilakukan dan mengenai hal lainnya. Mereka cuma janji kalo udah punya uang bakalan dibayar utangnya.

Bojoku sampe sewot gara2 aku gak kunjung menagih utang2 tersebut. Saya merasa rikuh untuk menagih utang2 tersebut, karena rata2 mereka yang utang adalah warga2 angkringan yang baik dan gak mbalelo.

Gimana, sampeyan ada ide tidak buat bantu saya? Bagaimana sih cara menagih utang yang baik dan benar?