Maret 2008


Beberapa tahun belakangan ini Indonesia dihadapkan pada krisis ketahanan pangan nasional. Banyak orang bertanya2, Indonesia kan negara agraris, mosok bisa kena krisis ketahanan pangan? Kita memang negara agraris, namun keberpihakan pemerintah terhadap para petani semakin berkurang dari tahun ke tahun.  Jika ini dibiarkan berlarut2 maka kita akan menjadi negara pengimpor pangan terbesar di dunia (untuk kasus beras skrg sudah yang terbesar di dunia).

Saat ini ekspor produk pertanian dari negara2 maju cenderung meningkat, meskipun dihadapkan pada iklim yang tidak bersahabat. Ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang justru menurun, hal ini dikarenakan ratio ketersediaan pangan terhadap pertumbuhan penduduk sangatlah kecil, sehingga sebagian besar produk pertanian tidak lagi diekspor tapi untuk memenuhi kebutuhan lokal. Ironisnya produk pertanian lokal terkadang malah tidak laku di masyarakat karena harganya yang lebih mahal dibanding produk pertanian sejenis yang di impor dari negara lain. Alhasil para petani pun enggan untuk mengembangkan usahanya, alih2 memperluas lahan, mereka justru menjual lahan pertanian mereka untuk perumahan ato industri yang menurut mereka lebih menguntungkan.

Opsi2 pemerintah mungkin cenderung dilematis, disaat harga kebutuhan pokok naikyang seharusnya menguntungkan petani/peternak, masyarakat kecil berteriak kelaparan, akhirnya pemerintah pun membuka keran impor sebesar2nya dan melakukan operasi pasar. Menurut saya operasi pasar terkadang justru kurang tepat sasaran. Seharusnya bentuk2 subsidi tersebut disalurkan langsung ke masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk food stamp mirip dana BLT dengan kerjasama dengan pihak bank, di mana masyarakat yang tidak mampu sebelumnya telah terdaftar melalui RT/RW/Kelurahan setempat. Cara ini justru lebih efektif dan efesien dalam pemberian subsidi. Dengan cara ini pemerintah tidak merugikan petani dan bisa membantu masyarakat kecil terkait dengan naiknya harga kebutuhan pokok.

Food Trap juga menjadi salah satu faktor yang menggerogoti devisa negara dan membawa bangsa ini menjadi pengimpor pangan terbesar di dunia. Semenjak Amerika Serikat memberikan bantuan gandum dalam jumlah besar, dan diikuti dengan dibangunnya pabrik gandum terbesar sedunia di Indonesia, kita menjadi bangsa yang terjajah oleh gandum. Mie dan roti pun seakan tak lepas dari kehidupan kita sehari2. Sudah saatnya kita mulai melakukan diversifikasi pangan seperti negara Jepang yang menggunakan singkong sebagai bahan baku mie. Sebetulnya diversifikasi pangan sudah ada sejak dulu, misalnya penggunaan jagung di madura atau sagu di papua, namun sekarang yang nampak adalah berasisasi.

Negara2 maju melakukan proteksi terhadap petani2 mereka, proteksi itu bisa dalam bentuk insentif, ketersediaan penunjang pertanian, bahkan harga jual yang layak. Mungkin pemerintah bisa mulai meniru mereka, misalnya dengan menjamin ketersedian bibit murah, pupuk murah dan tidak menjatuhkan harga komoditi pertanian di tingkat petani. Bukankah petani juga bagian dari masyarakat Indonesia?

Iklan

Have you read the RUU ITE? if you haven’t then you should read it. Especially for someone who use to criticize other people, religion, tribe, believe, madzhab, or what so ever. Basically if someone is insult by what you write on your blog, they can sue you for what you did. I don’t know if this is the end of freedom of free speech in Indonesia.

You can download the document here

After 5 years of US invasion to Iraq, what is the real reason they invade Iraq? Oil? Gold? or just a revenge for gulf war?
Haliburton Wants Us To Invade Iraq

Ketika Anak Kita Mengenal Google Adsense

seocontest2008
Pagi ini iseng2 masukin keyword “seocontest2008” di mbah gugle. Mak jegagig, ternyata pogung177 aka wawan menduduki peringkat pertama (posisi sementara). Saya coba masuk ke web penyelenggara, ternyata pogung177 masih di posisi ke 5 (mungkin blom di apdet). Sebagai bangsa Indonesia saya bangga, sebagai teman, murid dan kanca benthik saya cuma bisa ngomong :

makan – makan 😀

Hati2 bagi anda pelanggan PLN karena mulai bulan ini PLN telah menerapkan tarif progresif dalam tagihan listrik anda. Bagi mereka yang bisa menghemat hingga 80 % dari batas pemakaian akan diberikan insentif (diskon) dan bila melebihi akan dikenakan disinsentif (denda) sebesar 1,6 kali tagihan bulan tersebut. Dan ini berlaku untuk semua tipe pelanggan! .

PLN berdalih ini untuk mendidik masyarakat untuk melakukan penghematan dalam penggunaan listrik. Namun saya melihat bahwa ini merupakan praktek terselubung PLN dalam menaikkan tarif dasar listrik. Hemat saya metode ini lebih baik diterapkan kepada masyarakat menengah keatas (pelanggan dengan daya ≥ 1300 va) karena mereka lah yang menggunakan listrik lebih banyak, mereka yang punya AC, TV, Kulkas, mesin cuci, pengering pakaian dsb yang notabene merupakan alat2 elektronik yang boros listrik.

Metode ini tak lebih akal2an PLN saja. Karena besar diskon yang diberikan pastilah lebih sedikit dibanding besaran disinsetif yang diberikan oleh PLN. Dan yang lebih parah lagi adalah kurangnya sosialisasi pada masyarakat bahwasanya mulai bulan ini sudah diterapkan tarif progresif untuk tagihan listrik. Hampir sebagian besar masyarakat di kampung saya tidak tahu akan adanya program ini. Apa ini bisa digolongkan menjadi penipuan?

Mohon kepada pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan yang tidak populis ini. Jangan lagi korbankan masyarakat kecil. Sebaiknya juga dilakukan pengembangan2 pembangkitan energi yang murah.

Simulasi Perhitungan Tarif Listrik Insentif dan Disinsentif PLN

Mohon maaf tulisan ini sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan tarif pelistrikan di indonesia
tulisan ini tidak akan saya revisi ato hapus, cuma sebagai histori saja, mohon maaf sebelumnya