Beberapa minggu terakhir ini kampung angkringan disibukkan dengan mewabahnya penyakit Chikungunya. Di RT 4 udah mencapai lebih dari 50 orang, di RT 5 baru sekitar 10 orang termasuk istriku. Padahal sebagai kampung yang tinggi rasa guyupnya, kerja bakti membersihkan lingkungan senantiasa dilakukan. Uniknya hanya sebagian kecil warga yang tahu bahwa mereka terkena penyakit chikungunya. Gejala penyakit ini termasuk demam mendadak yang mencapai 39 derajat C, nyeri pada persendian terutama sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang yang disertai ruam (kumpulan bintik-bintik kemerahan) pada kulit. Terdapat juga sakit kepala, conjunctival injection dan sedikit fotofobia.

TIdak ada perlakuan khusus untuk Chikngunya, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam 4~5 hari. Cukup berikan obat penurun panas jika demam, dan atau obat/jamu penghilang rasa nyeri persendian. Chikungunya adalah sejenis demam virus yang disebabkan alphavirus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti sama seperti Demam Berdarah. Yang sangat disayangkan adalah kepedulian pemerintah dalam kasus Chikungunya sangatlah rendah, sepertihalnya Dinas Kesehatan Depok Sleman, mereka beralasan tidak ada dana untuk melakukan fogging untuk kasus Chikungunya, lain halnya jika yang terjadi adalah Demam Berdarah. Saya cuma beranggapan seharusnya kalo jenis nyamuknya sama bukankah resiko terjangkitnya penyakit Demam Berdarah juga sama ? Ah mungkin pemikiran saya yang salah …

Lain lagi dengan pemikiran warga masyarakat Gunung Kidul, kebetulan famili istriku berasal dari sana. Sebut saja Mbah Surjo, beliau menyatakan bahwa sekarang wabah tersebut juga terjadi di daerahnya, mereka menyebutnya ‘dengkelen’. Mereka beranggapan bahwasanya penyakit ini wajar/biasa karena kraton hendak melaksanakan hajatan mantu. Wah ada2 saja Mbah Surjo ini.🙂