Sudah menjadi suatu kebiasaan, menjelang datangnya musim tanam dengan tiba2 pupuk hilang di pasaran. Baik itu yang bersubsidi maupun yang tidak bersubsidi. Disaat pemerintah mulai menunjukkan kepedulian kepada petani (meski sering salah sasaran) nampaknya hal yang satu ini masih luput dari pengamatan. Hal ini juga dikarenakan besarnya kebutuhan akan pupuk yang tidak sebanding dengan besaran pupuk yang digelontorkan ke masyarakat yang disetujui dalam peraturan gubernur. Selain itu mendekati masa tanam banyak spekulan beraksi dengan menimbun pupuk untuk kemudian dijual dengan harga yang lebih mahal.

Disaat Presiden SBY mencanangkan peningkatan ketahanan pangan, sudah seharusnya pihak2 yang berkompeten mendukungnya dengan segenap hati. Sungguh ironis jika usaha peningkatan ketahanan pangan tidak didukung dengan kebijakan2 pemerintah daerah dan departemen pertanian sebagai ujung tombaknya. Karena sekali lagi proteksi kepada para petani tak hanya di hulu saja namun di sektor hilir juga harus diproteksi.

Namun harus diperhatikan juga penggunaan pupuknya, bisa jadi kelangkaan pupuk ini terjadi dikarenakan pemborosan yang dilakukan oleh para petani. Sudah saatny melakukan penggunaan pupuk yang berimbang antara pupuk kimiawi dan pupuk organik, sehingga tanah tidak cepat rusak.

Ngomong opo to aku iki ….🙂