Dampak kenaikan harga BBM mulai terasa, berbagai macam kebutuhan pokok harganya mulai merangkak naik, bahkan ada yang sudah naik sebelum kenaikan harga BBM. Jauh2 hari sebelum meroketnya harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh level $130/barrel, pemerintah menerapkan konversi energi dari minyak tanah ke gas. Program konversi dari minyak tanah ke gas ini diharapkan akan menghemat subsidi pemerintah.

Namun program ini tidak didukung dengan kualitas barang (kompor gas + tabung gas 3kg) yang diberikan kepada masyarakat. Banyaknya kasus tabung gas meledak membuat masyarakat takut untuk menggunakan gas. Alhasil masyarakatpun kembali menggunakan minyak tanah meskipun mahal dan langka.

Lain lagi di daerah papua, kenaikan harga BBM sangat memukul kegiatan ekonomi di sana. BBM jenis premium yang seharusnya berharga Rp 6000/liter di beberapa tempat harganya mencapai Rp15000/liter. Sehingga inflasi untuk beberapa daerah di papua diprediksi akan meningkat secara signifikan.

Tingkat ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil sudah seharusnya di kurangi. Solusi penggunaan bahan bakar alternatif juga sudah dilaksanakan oleh negara2 lain di dunia, salah satunya bioethanol. Ethanol dihasilkan dari proses fermentasi glukosa :
C6H12O6 → 2C2H6O + 2CO2

Bahan baku untuk bioethanol ini bermacam2, seperti tetes tebu, singkong, jagung, sagu dsb. Dengan biaya produksi 2700/liter untuk bioethanol 40% (setara minyak tanah) dan dengan effiesiensi 1 liter bioethanol = 4 liter minyaktanah (dalam penggunaannya), saya rasa bioethanol akan lebih bisa diandalkan dibandingkan dengan gas. Bioethanol ini sangat cocok untuk daerah papua, mengingat mudahnya mendapatkan sagu sebagai bahan baku baik yang ditanam maupun yang liar.

Yang menjadi masalah sekarang adalah beralihnya negara2 maju ke bioethanol ini telah memicu kenaikan harga pangan dunia terutama jagung. Jagung sekarang menjadi favorit bahan baku pembuatan bioethanol. Untuk wilayah Indonesia perlu dipertimbangkan pembudidayaan Sorgum sebagai alternatif bahan baku pembuatan bioethanol, mengingat Sorgum tidak menjadi makanan pokok daerah manapun di Indonesia.