Sampah telah menjadi masalah yang cukup pelik bagi masyarakat kita, terutama di kota2 besar seperti Jakarta. Sampah juga menjadi sumber berbagai macam masalah yang menimpa kota2 besar tersebut, misalnya masalah banjir, dan gangguan kesehatan. Sudah saatnya kita “melek sampah” dengan mencontoh “saudara tua” kita Belanda dan Jepang dalam hal pengelolaan sampah.

Di Belanda, masyarakatnya telah “melek sampah”, mereka memisahkan sampah menjadi: sampah organik, sampah yang bisa didaur ulang, sampah yang tidak berbahaya bila dibakar, dan sampah yang berbahaya/beracun. Pemerintah Belanda menyediakan tempat2 sampah sesuai jenisnya, sehingga memudahkan dinas pengelolaan sampah untuk mengolahnya. Sampah organik seperti sisa makanan ataupun daun2an kemudian diproses menjadi pupuk kompos. Sampah2 seperti kertas, kaca, dan logam bisa didaur ulang kembali. Sedangkan sampah2 yang tidak berbahaya dibakar untuk kemudian bisa membangkitkan pembangkit listrik tenaga uap (ini bisa jadi solusi buat PLN yang katanya lagi krisis energi). Sedangkan sampah2 berbahaya seperti batu baterai dan aki di karantina karena berbahaya bagi lingkungan (sanitary landfill)

Begitu pula dengan negara Jepang, sebagian sampah itu mereka olah dan sebagian lagi dimusnahkan. Yang unik di negara Jepang, mereka membedakan pembuangan jenis sampah tertentu berdasarkan hari. Misalnya hari Senin untuk sampah elektronik, hari Selasa untuk sampah kertas dsb. Bagi mereka yang tidak mengikuti aturan ini sampahnya tidak diangkut oleh petugas sampah dan akan dikucilkan oleh warga sekitar. Perlakuan ini cukup efektif untuk mendisiplinkan warga masyarakat agar “melek sampah”.

Di negara kita mungkin akan lebih efektif jika pengawasan persampahan ini dilakukan mulai dari level yang paling bawah tingkat RT/RW misalnya, karena di beberapa daerah pengelolaan sampahnya belum terorganisir dengan baik, seperti warga di bantaran kali yang cenderung membuang sampah langsung ke kali.