Indonesia Menuju Rawan Pangan ?Ketika saya menyebut kerawanan pangan di Indonesia, bukan berarti tidak ada pangan sama sekali. Itu berarti dalam memenuhi kebutuhan pangan Indonesia sudah semakin bergantung kepada produk impor yang jumlahnya semakin besar dari tahun ke tahun. Inilah yang kita rasakan sekarang dengan kasus protesnya para pengrajin tahu dan tempe terkait dengan tingginya harga kedelai impor.

Kondisi ini seharusnya menjadi tantangan untuk membuat Indonesia mandiri di bidang pangan. Sebuah laporan FAO (Food and Agriculture Organization) menyebutkan 20 tahun lagi dunia semakin berkecukupan pangan. Ini karena peningkatan produksi pangan lebih tinggi daripada pertambahan jumlah penduduk. Namun peningkatan produksi itu hanya terjadi di negara-negara maju. Sementara di negara berkembang justru terjadi pertumbuhan penduduk yang sangat luar biasa.

Kecukupan pangan dunia memang meningkat, tetapi penduduk yang kekurangan pangan juga bertambah. Sebab pertumbuhan penduduk negara-negara berkembang jauh lebih tinggi daripada kemampuannya untuk memproduksi pangan. Pemenuhan pangan negara-negara berkembang semakin tergantung pada impor. Menurut perkiraan Impor negara berkembang naik dari 170 juta ton pada 1995 menjadi 270 juga ton pada 2030. Sebaliknya ekspor negara maju meningkat dari 142 juta ton menjadi 280 juta ton.

KENAPA IMPOR NAIK TERUS ?
Secara umum peningkatan permintaan pangan nasional jauh lebih besar dibanding kenaikan produksi. Di lain pihak tuntutan kualitas jauh lebih tinggi ketimbang peningkatan kualitas yang bisa kita lakukan. Orang semaking menyujai makan beras jepang misalnya, sedangkan negara kita belum mampu membuat sebaik itu. Di lain tempat masyarakat menuntut kualitas durian seperti durian bangkok yang rasanya seragam dan dijamin bagus

Berikut adalah contoh sebagai gambaran, periode 1995-1997 produksi beras nasional 32 juta ton, 1998-2001 31 juta ton, sedangkan impor pada periode sama meningkat dari 1,5 juta ton menjadi 3,2 juta ton. Akibatnya rasio ketergantungan impor naik dari 4,3 menjadi 9,1. Dari total beras yang diperdagangkan dunia, seperdelapannya di impor oleh Indonesia, kini Indonesia menjadi importir beras TERBESAR di dunia.

Mengapa produksi beras turun ? Dahulu petani dibantu, pupuk disubsidi, pada jaman Pak Harto dulu ada yang namanya Kredit Usaha Tani (KUT). Sekarang subsidi pupuk dihapus  dan KUT tidak ada. Aspek kedua adalah rendahnya harga beras. Kalau petani merugi, siapa yang mau menambah produksi? Siapa yang mau memperluas lahan?
Hal ini juga terjadi pada komoditas kedelai yang volume  impornya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kedelai impor ukurannya lebih besar harga lebih murah, sedangkan kedelai lokal ukuran lebih kecil meski rasanya lebih gurih namun harganya mahal, para pengrajin tahu dan tempe pun akhirnya memilih kedelai impor.

Cina yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia mampu mencukupi kebutuhan pangannya. Negara besar tersebut dibelah oleh Sungai Yangtse. Tanah di bagian selatan sungai tidak bisa ditanami gandum, namun cocok ditanami padi, sebaliknya di bagian utara yang dingin tanaman gandum tumbuh subur. Dengan sumberdaya ini orang Cina di bagian utara makan mie berbahan dasar gandum, sedang di bagian selatan makan kwetiau, bihun dan soun yang berbahan dasar kacang hijau dan beras.

Hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Kita tidak bisa menanam gandum namun menjadi pengkonsumsi roti dan mie. Dan jangan lupa kita memiliki PABRIK GANDUM TERBESAR DI DUNIA. Akibatnya kita menjadi sangat tergantung pada gandum, inilah yang dinamakan Food Trap. Kini Indonesia menjadi IMPORTIR GANDUM TERBESAR DI DUNIA. Jadi tanpa perencanaan yang matang dan konsisten Indonesia akan menjadi importir pangan terbesar di dunia. Ini adalah ancaman bagi ketahanan pangan nasional. Salah satu yang perlu dilakukan adalah meningkatkan produksi dan diversifikasi pangan.

Sungguh ironis sekali, negara kita yang terkenal sebagai negara agraris dan maritim, namun dilain pihak tidak bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Lebih ironis lagi ternyata Presiden kita yang disertasinya di bidang PERTANIAN juga tidak mampu mengatasi masalah ini. Di dunia yang semakin tanpa batas, impor memang bukan sesuatu hal yang perlu kita takuti, namun dengan jumlah penduduk yang besar, kemandirian dalam pemenuhan kebutuhan pangan adalah sesuatu yang perlu