Obrolan


uang pecahan 2000 baruBelum lama masuk bulan Ramadhan, sebagian masyarakat sudah mulai sibuk mencari pecahan uang baru untuk dibagi2kan di kampung halaman. Dari beberapa orang yang saya temui pecahan 2000-an lah yang paling banyak dicari masyarakat karena merupakan pecahan uang baru.

Mungkin bagi masyarakat kebanyakan munculnya pecahan uang baru 2000-an ini disambut dengan gembira. Namun bagi saya ini merupakan pertanda kemunduran ekonomi kita. Terbitnya pecahan uang 2000-an ini tak lain adalah inflasi.  Sejak Maret 2007, Bank Indonesia berencana menerbitkan uang kertas (UK) baru, pecahan Rp 2000,- dan Rp 20.000,- lalu menarik uang kertas Rp 1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp 1.000,- yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seri Kelapa Sawit (1993 – 2000). Dengan ditariknya pecahan 1000-an maka pecahan terkecil adalah 500-an, sedangkan koin 100-an dan 200-an bisa dipastikan tak lama lagi akan menghilang dengan sendirinya.

Inflasi maupun masalah2 moneter lainnya tidak perlu terjadi jika kita menggunakan standar emas dan perak dalam mata uang kita. Ketika dunia menggunakan emas dan perak sebagai mata uang, tidak pernah terjadi sama sekali masalah-masalah moneter, seperti inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan anjloknya daya beli. Profesor Roy Jastram dari Berkeley University AS dalam bukunya The Golden Constant telah membuktikan sifat emas yang tahan inflasi. Menurut penelitiannya, harga emas terhadap beberapa komoditi dalam jangka waktu 400 tahun hingga tahun 1976 adalah konstan dan stabil.

Dalam sistem Bretton Woods yang berlaku sejak 1944, dolar masih dikaitkan dengan emas, yaitu uang US$35  dapat ditukar dengan 1 ounce emas (31 gram). Namun pada 15 Agustus 1971, karena faktor ekonomi, militer, dan politik, Presiden AS Richard Nixon akhirnya menghentikan sistem Bretton Woods itu dan dolar tak boleh lagi ditukar dengan emas. . Mulailah era nilai tukar mengambang global yang mengundang banyak masalah. Dolar semakin terjangkit penyakit inflasi. Pada tahun 1971 harga resmi emas adalah US$38  per ounce. Namun pada tahun 1979 harganya sudah melonjak jadi US$450 per ounce.

Uang Dinar Emas

Percayakah anda bahwa harga 1 ekor kambing tidak berubah selama 14 abad? Pada jaman Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan bahwa harga seekor kambing berkisar antara 0.5 – 1 Dinar, dan itu belum berubah sampai dengan sekarang. Merujuk pada sistem dinar emas islam, maka 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas 22 karat. Maka 1 dinar emas saat ini setara dengan 1,3 juta rupiah.

Alih2 menjadi budak perbankan international yang menggunakan sistem riba, kita sebaiknya mulai berpaling ke sistem ekonomi islam yang menggunakan standar dinar-dirham sebagai mata uang yang telah terbukti tahan terhadap berbagai macam masalah moneter. Andai saja pemerintah mau memperhatikan dan mau meninggalkan sistem ekonomi kapitalis.

Ramadhan telah datang menghampiri kita, kembali kita terlarut dalam kesibukan peribadatan di dalam bulan yang mulia ini. Dulu semasa menjadi mahasiswa, bulan ramadhan adalah bulan yang penuh barakah bagi kami para mahasiswa dari golongan menengah ke bawah. Di bulan ramadhan waktu itu kami bisa menghemat hampir 50% lebih dari budget bulanan kami, meskipun untuk ukuran Yogyakarta waktu itu biaya hidup sehari2 masih tergolong murah. Karena di hampir setiap masjid selalu menyediakan menu takjil untuk berbuka puasa. Menu takjil itupun sangat variatif dari masjid ke masjid.

Bagi yang tinggal dilingkungan UGM mungkin masih ingat buka puasa bersama di gelanggang ugm, meskipun menu sangat sederhana (kadang ikan, kadang secuil telor) namun sangat bermakna. Jika menginginkan menu yang lebih bisa datang ke masjid2 yang cukup besar seperti masjid syuhada.

Berbeda dengan ketika menjadi mahasiswa, ketika telah berkeluarga anggaran belanja keluarga yang seharusnya juga turun (karena puasa) malah justru naik ± 25%. Karena harga kebutuhan pokok telah naik menjelang bulan ramadhan. Saya yang bodoh ekonomi ini tidak habis pikir, kenapa disaat orang mengurangi kebutuhannya justru harga malah naik ? Bukankah hukum ekonomi menyatakan harga kebutuhan berbanding lurus dengan permintaan ? Apakah permintaan justru naik di bulan Ramadhan ?

Menjelang bulan ramadhan, pemerintah telah menyatakan stok sembako untuk bulan ramadhan dinyatakan cukup. Berarti paling tidak pemerintah sudah mengantisipasi adanya kemungkinan permintaan yang naik di bulan ramadhan. Namun kenyataannya stok yang cukup tersebut tidak dapat mengantisipasi naiknya harga kebutuhan pokok di bulan ramadhan.  Masyarakat juga nampaknya sudah biasa menghadapi naiknya harga sembako di bulan ramadhan.  Masalahnya adalah kenapa harga sembako harus naik ? 😀

MisterPopo ngaturaken sugeng siyam …  Happy Fasting!

Suasana angkringan sore ini terlihat agak panas, nada emosi, cacian, hujatan banyak terlontar dari para pengangkring. Hal ini dikarenakan berita ini. Kasus sengketa tanah di Jeneponto yang merenggut nyawa seorang polisi (Briptu Dasrin). Korban meninggal kembali bertambah dengan meninggalnya si pembunuh polisi tersebut (Muhammadong), dia menghembuskan nafasnya setelah mendapat perawatan di RS Bhayangkara, Makassar, Senin.

Yang menyebabkan kejengkelan di kalangan pengangkring adalah, bahwasanya Muhammadong meninggal karena disiksa oleh oknum2 polisi. Juniati, istri Muhamadong mengungkapkan bahwa sebelum suaminya meninggal sempat bercerita bahwa dirinya mendapat siksaan oknum polisi selama dirawat di RSU Jeneponto.

“Suamiku bilang, kalau polisi menendang kemaluannya hingga bengkak. Kemudian kembali menembak betisnya dan tidak diberi makan selama dua malam di rawat RS Jeneponto. ” Kata Juniati

Selama di rawat di RS Jeneponto, Polisi juga tidak membolehkan dia di jenguk oleh keluarganya. Dia juga menceritakan bahwa ada empat butir peluru yang bersarang di betisnya yang baru dikeluarkan di RS Bhayangkara Makassar. Karena mengalami infeksi kaki Muhamadong pun diamputasi.

Jika anda melihat di TV,  Muhamadong (berpakaian hitam dan berpeci) tidak mungkin dia akan mati kalau hanya tertembak di kaki. Brutalisme polisi harusnya tidak perlu terjadi jika mereka bertindak profesional.

Jika nyawa dibalas nyawa, terus kemana perginya slogan polisi yang selalu digembar-gemborkan ‘jangan main hakim sendiri’ ?

Berikut adalah tanggapan para pengangkring sore tadi :
– Kang Yono : Ada dua jenis orang di dunia ini, orang baik dan polisi.
– Kang Jimin: Polisi juga manusia, punya rasa, punya belati
– Toink : polisi = preman pasar berseragam resmi yang berhak memegang senjata api
– Sudar: Pajak di bayar rakyat untuk gaji polisi, beli senjata dan menindas rakyat
bayar pajak = keluar uang buat disiksa
hari gini bayar pajak? apa kata dunia?

Setelah disebut2 sebagai departemen terkorup di indonesia, ditambah lagi dengan tragedi Jeneponto, semoga Kapolri bisa menyikapinya dengan arif dan segera melakukan perbaikan2.

“Kang Popo, aku mau gadai-in motorku 2 juta, bisa gak?” tanya om Yanto di suatu sore di bawah tenda angkringannya.
“Lho, lagi butuh uang po Om?” tanyaku.
“Aku butuh buat bayar hutang macem2, mulai dari bayar sekolah anak sampe kredit motor, ini aja adikku mo nikah trus aku yang mesti nanggung mantenane (pernikahannya). Belum lagi buat operasional angkringan” jawabnya

Sebagai pelanggan setia angkringan om Yanto, saat itu aku bisa menyimpulkan adanya manajemen keuangan yang kurang sehat di angkringannya. Kenapa bisa disimpulkan demikian? Karena sebagai kampung pengusaha angkringan, kondisi kesehatan keuangan angkringan milik om Yanto berbeda jauh dengan yang lainnya, terlepas dari kompleksitas masalah pribadi yang dialaminya.

Keseharian operasional angkringan om Yanto cenderung nombok, penghasilan yang didapat dari usaha angkringan (modal dan keuntungan) digunakan begitu saja dengan tidak memikirkan modal operasional angkringan. Kredit konsumtif telah menjadi kebiasaan dari orang2 seperti om Yanto yang mengedepankan gengsinya. Tapi bukan itu saja yang menjadi masalah, manajemen pengoperasionalan angkringan juga sedikit banyak memberi dampak yang cukup berarti.

Om Yanto terlalu bermurah hati dalam berjualan angkringan, orang terbiasa berhutang di angkringannya, bahkan ada yang sampe sebulan (dengan alasan uang kiriman belom datang tentunya). Dan orang2 yang berhutang di angkringannya gak cuma satu dua orang, namun bisa dikatakan cukup banyak sehingga memerosotkan modal operasional angkringan. Terkadang untuk menomboki operasional angkringan om Yanto terpaksa harus berhutang lagi. Mungkin postur tubuh pengusaha angkringan juga mempengaruhi keberanian orang untuk berhutang, karena om Yanto bertubuh kecil sehingga orang2 berani untuk berhutang padanya (korelasi yang ngawur).

Manajemen angkringan menurut saya :
– Usahakan pelanggan tidak berhutang, kalopun terpaksa berhutang, kasih tempo yang pendek dan jelas.
– Awasi pelanggan, siapa tahu ada yang ngutil gorengan dsb, kalo perlu gorengannya di kasih barcode, jadi kalo ada yang ngutil bisa ketauan, bisa rugi bandar kalo melihara yang kayak gini.
– Selalu sediakan uang recehan untuk mengantisipasi orang2 yang berhutang dengan alasan uang kegedean.
– Jangan pernah gunakan modal operasional untuk keperluan konsumtif, biasakan untuk memisahkan antar modal, keuntungan dan effort.
– Hindari kredit konsumtif yang akan menggerogoti bisnis.
– Jangan biasakan berhutang, kecuali untuk memperkuat modal dan melakukan ekspansi usaha.

Saya cuma bicara ngawur, jadi mohon di maapken 🙂

*Jeritan hati orang yang biasa ngutangi 😦

Terkait dengan status Nurdin yang pernah terjerat hukum (kriminal), setahu saya, FIFA telah mengirimkan surat kepada PSSI pada bulan Juni lalu, agar PSSI melakukan pemilihan kembali ketua umumnya. Menurut saya hal tersebut sudah sangat lazim karena jika sebuah asosiasi sepak bola sudah menjadi bagian dari FIFA, maka mau tidak mau harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya.

Dalam statuta FIFA, pada pasal 32 ayat 4 standart statutes, disebutkan bahwasanya pengurus organisasi sepakbola haruslah orang yang aktif di sepakbola dan tidak tersangkut masalah kriminal.

Namun PSSI malah bertekad mempertahankan Nurdin Halid, sebagaimana ditegaskan oleh Sekjen PSSI, Nugraha Besoes. Mereka berdalih kasus Nurdin Halid belum terjadi saat Nurdi dipilih (di munas Makasar). Menurut Nugraha, Nurdin hanya bisa di copot melalui mekanisme munaslub, namun demikian Exco (Komite Eksekutif) PSSI tidak akan mengusulkan mekanisme munaslub tersebut (status quo). Pernyataan macam apa pula itu?

Dalam kesempatan lain Sepp Blatter (Presiden FIFA) dalam sebuah acara di FoxSport menyatakan dengan jelas dan tegas agar PSSI tidak menentang keputusan FIFA untuk mencopot Nurdin Halid dari jabatannya. Harusnya pernyataan tersebut menyadarkan PSSI, yang selalu beralasan menunggu surat resmi dari FIFA perihal pencopotan Nurdin Halid.

Mau dibawa kemana dunia persepakbolaan Indonesia, kalau pengurusnya aja kayak gitu?

Terkait:
PSSI Tantang Anggotanya Jika Ingin Munaslub
Bola ada di tangan PSSI

Pagi ini, sembari nungguin nasi buat sarapan mateng, iseng2 nonton TV ditempat Bapak mertua. Ada berita yang menarik, seputar upaya Pemda dan Pemkot DKI untuk menahan laju urbanisasi di Jakarta. Pemda dan Pemkot DKI menggelar operasi Yustisi secara serentak di lima wilayah DKI, targetnya adalah para pendatang yang tidak memiliki KTP Jakarta. Intinya untuk bekerja di Jakarta harus punya KTP Jakarta. Trus bagaimana dengan yang sedang mencari pekerjaan di Jakarta? Bukankah setiap warga negara berhak atas penghidupan yang layak?

Menurut saya operasi Yustisi hanya boleh dilakukan untuk menindak warga masyarakat yang tidak memiliki KTP saja. Bukan masalah KTP Jakarta ataupun KTP luar Jakarta.

Kembali ke berita yang saya liat di TV, seorang pedagang asongan terjaring operasi tersebut, kemudian langsung disidang dan di putus denda sebesar 20rb. Padahal untuk seorang pedagan asongan uang 20rb bukanlah uang yang sedikit, dan dia pun punya KTP, meski bukan KTP Jakarta. Kemudian ditampilkan juga suasana operasi yustisi di kost2an cewek, banyak dari mereka yang ber-KTP daerah seputaran Jakarta seperti Bogor dan Bekasi. Mereka nge-kost agar dekat dengan tempat kerja, apakah ini salah?

Buat bang kumis, mending sampeyan mikirin solusi yang cocok buat kaum urban ini.

Beberapa hari ini lumayan dibikin geram oleh seseorang oknum. Bayangin aja, email saya di catut untuk daftar ke situs2 tertentu. Untung saja setiap pendaftaran masih dibutuhkan konfirmasi lewat email, sehingga account atas nama email saya tersebut belum aktif. Apa jadinya kalo email saya tersebut disalah gunakan untuk hal2 yang tidak bertanggung jawab, kemudian ada yang komplain, wah bisa gawat tuh.

Coba kalo sampeyan digituin gimana?

Laman Berikutnya »