Renungan


Indonesia Menuju Rawan Pangan ?Ketika saya menyebut kerawanan pangan di Indonesia, bukan berarti tidak ada pangan sama sekali. Itu berarti dalam memenuhi kebutuhan pangan Indonesia sudah semakin bergantung kepada produk impor yang jumlahnya semakin besar dari tahun ke tahun. Inilah yang kita rasakan sekarang dengan kasus protesnya para pengrajin tahu dan tempe terkait dengan tingginya harga kedelai impor.

(lebih…)

Iklan

uang pecahan 2000 baruBelum lama masuk bulan Ramadhan, sebagian masyarakat sudah mulai sibuk mencari pecahan uang baru untuk dibagi2kan di kampung halaman. Dari beberapa orang yang saya temui pecahan 2000-an lah yang paling banyak dicari masyarakat karena merupakan pecahan uang baru.

Mungkin bagi masyarakat kebanyakan munculnya pecahan uang baru 2000-an ini disambut dengan gembira. Namun bagi saya ini merupakan pertanda kemunduran ekonomi kita. Terbitnya pecahan uang 2000-an ini tak lain adalah inflasi.  Sejak Maret 2007, Bank Indonesia berencana menerbitkan uang kertas (UK) baru, pecahan Rp 2000,- dan Rp 20.000,- lalu menarik uang kertas Rp 1000,- bergambar Pattimura untuk digantikan dengan koin baru Rp 1.000,- yang bahan metalnya lebih murah dari koin Rp 1.000,- seri Kelapa Sawit (1993 – 2000). Dengan ditariknya pecahan 1000-an maka pecahan terkecil adalah 500-an, sedangkan koin 100-an dan 200-an bisa dipastikan tak lama lagi akan menghilang dengan sendirinya.

Inflasi maupun masalah2 moneter lainnya tidak perlu terjadi jika kita menggunakan standar emas dan perak dalam mata uang kita. Ketika dunia menggunakan emas dan perak sebagai mata uang, tidak pernah terjadi sama sekali masalah-masalah moneter, seperti inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan anjloknya daya beli. Profesor Roy Jastram dari Berkeley University AS dalam bukunya The Golden Constant telah membuktikan sifat emas yang tahan inflasi. Menurut penelitiannya, harga emas terhadap beberapa komoditi dalam jangka waktu 400 tahun hingga tahun 1976 adalah konstan dan stabil.

Dalam sistem Bretton Woods yang berlaku sejak 1944, dolar masih dikaitkan dengan emas, yaitu uang US$35  dapat ditukar dengan 1 ounce emas (31 gram). Namun pada 15 Agustus 1971, karena faktor ekonomi, militer, dan politik, Presiden AS Richard Nixon akhirnya menghentikan sistem Bretton Woods itu dan dolar tak boleh lagi ditukar dengan emas. . Mulailah era nilai tukar mengambang global yang mengundang banyak masalah. Dolar semakin terjangkit penyakit inflasi. Pada tahun 1971 harga resmi emas adalah US$38  per ounce. Namun pada tahun 1979 harganya sudah melonjak jadi US$450 per ounce.

Uang Dinar Emas

Percayakah anda bahwa harga 1 ekor kambing tidak berubah selama 14 abad? Pada jaman Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan bahwa harga seekor kambing berkisar antara 0.5 – 1 Dinar, dan itu belum berubah sampai dengan sekarang. Merujuk pada sistem dinar emas islam, maka 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas 22 karat. Maka 1 dinar emas saat ini setara dengan 1,3 juta rupiah.

Alih2 menjadi budak perbankan international yang menggunakan sistem riba, kita sebaiknya mulai berpaling ke sistem ekonomi islam yang menggunakan standar dinar-dirham sebagai mata uang yang telah terbukti tahan terhadap berbagai macam masalah moneter. Andai saja pemerintah mau memperhatikan dan mau meninggalkan sistem ekonomi kapitalis.

Dalam euforia Ramadhan ini semua stasiun TV berlomba-lomba bersaing memberikan tayangan2  terutama saat menjelang berbuka dan sahur.  Baik itu berupa pengajian, kuis, sinetron, reality show dan sebagainya. Namun hampir sebagian besar dari acara2 tersebut secara langsung telah mencoreng makna Ramadhan itu sendiri. Karena hampir sebagian besar dari acara tersebut menggunakan pemeran banci (laki2 yang bertingkah menyerupai wanita) dengan dalih hiburan.

Alih-alih sebagai hiburan justru hal tersebut merupakan perilaku yang dilaknat oleh Allah SWT dan rasullullah SAW. Sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Ibnu Abbas RA bahwasanya “Rasulullah SAW telah melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan [melaknat] para wanita yang menyerupai para lelaki.” (la’ana rasulullah SAW al-mutasyabbihiina min ar-rijaal bi an-nisaa` wa al-mutasyabbihaat min an-nisaa` bi ar-rijaal). (HR Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Juz I hal. 227 & 339, dan HR al-Bukhari Shahih al-Bukhari hadits no. 5886 & 6834). (Imam Syaukani, Nailul Authar, [Dar Ibn Hazm : Beirut, 2000], hal. 1306).

Tasyabbuh dalam hadist di atas adalah menyerupai jenis lain dalam segala hal (berbicara, berpakaian, berjalan, dsb) yang memang menjadi ciri khas jenis lain tersebut. Misalnya laki-laki memakai pakaian yang secara khusus dipakai wanita saja, semisal daster, rok, kebaya, kerudung (khimar), jilbab (jubah), dan sebagainya. Atau misalnya laki-laki memakai anting-anting, cincin emas, memakai kain sutera, dan sebagainya. Atau sebaliknya, perempuan memakai pakaian yang secara khusus dipakai laki-laki saja, misalnya perempuan memakai celana panjang khas laki-laki, atau memakai sepatu khas laki-laki, tas khas laki-laki, dan sebagainya. Dan jelas hukumnya adalah haram.

Para artis yang berperilaku kebanci-bancian tersebut telah tarlaknat begitu pula PH (production house) dan stasiun TV yang menayangkannya. Sudah seharusnya tayangan-tayangan tersebut dihapuskan, karena selain menyalahi syariat juga merusak moral generasi penerus bangsa. Karena jika tayangan seperti itu terus menerus di tayangkan akan menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu hal yang biasa di masyarakat. Dan anak-anak pun pada akhirnya akan cenderung meniru perilaku tersebut.

Menurut syariat Islam laki-laki yang berperilaku seperti perempuan, atau perempuan yang berperilaku seperti laki-laki, wajib diusir dan dikucilkan dari masyarakat ramai. Ini merupakan jenis sanksi ta’zir yang dijatuhkan  atas mereka. Dalam satu riwayat Ibnu Abbas RA meriwayatkan Nabi SAW telah melaknat laki-laki banci (mukhannats) yang berlagak seperti perempuan dan perempuan yang berlagak seperti laki-laki. Bahkan Nabi SAW mengatakan :
“Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian.” (akhrijuuhum min buyuutikum). Maka Nabi SAW telah mengeluarkan si Fulan, dan Umar pun pernah mengeluarkan si Fulan. (HR Ahmad dan Bukhari). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1306).

Sebagai umat islam sudah seharusnya kita mengisi Ramadhan ini dengan beribadah agar kita menjadi orang2 yang bertakwa. Jauhi tayangan2 yang merusak dan menodai Islam, serukan kepada khalayak ramai. Semoga kita terhindar dari azab yang ditimpakan Allah atas hal tersebut.

Kota Jogjakarta beberapa minggu yang lalu dihadapkan pada polemik masalah penerapan quota penerimaan siswa baru untuk sekolah2 negeri di wilayah kodya yogyakarta. Sekolah hanya akan menerima ± 25% siswa yang berasal dari luar kodya Yogyakarta. Sistem quota ini dibuat agar sekolah2 negeri di yogyakarta tidak kebanjiran siswa dari luar daerah kodya yogyakarta. Banyak warga masyarakat yang menyayangkan hal tersebut, misalnya warga masyarakat di perbatasan sleman yogya (bulak sumur), karena untuk sekolah di wilayah sleman terlalu jauh. Imbas dari penerapan quota ini adalah banyaknya permintaan pindah KK dari luar kodya yogyakarta sekedar agar siswa dari luar kodya bisa sekolah disana.

Kenapa banyak orang tua dari luar wilayah kodya yogya begitu ingin menyekolahkan anaknya di yogya ? Jawabannya adalah mutu atau kualitas pendidikan yang diberikan lebih baik dibandingkan dengan sekolah dekat tempat tinggal mereka. Orang tua tidaklah salah jika berfikir demikian, karena memang kenyataannya seperti itu. Standard pendidikan yang berbeda2 menjadikan seseorang ingin menyekolahkan anaknya ke institusi pendidikan yang terbaik, meskipun kemampuan sang anak pas2an.

Apa yang ingin saya angkat disini adalah bahkan anak yang bodoh pun berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Dan satu2nya solusi adalah standardisasi seluruh sistem pendidikan. Baik itu cara mengajar, ketersediaan alat bantu mengajar, dsb. Jadi dimanapun sang anak bersekolah akan mendapatkan kualitas pendidikan yang sama. Belajar dari saudara tua kita, Jepang, di negeri matahari tersebut diterapkan standard untuk pendidikan dasar, bahkan bentuk sekolahnya pun nyaris sama diberbagai daerah.

Seandainya semua sekolah menerapkan standard pendidikan yang sama maka mereka cukup bersekolah dekat dengan tempat tinggal mereka. Tidak seperti nasib Sita, tetangga saya terpaksa harus sekolah di sekolah negeri yang teramat jauh dari tempat tinggalnya (bukan SMP favorit) hanya karena nilainya pas2an, sedangkan sekolah2 yang dekat dengan tempat tinggalnya (3 SMP Negeri) merupakan sekolah favorit yang diserbu peminat dari penjuru kota jogja.

Sistem RTO sedikit banyak juga telah mengkotak2an kualitas peserta didik di jogja, hasilnya adalah siswa dengan nilai diatas rata2 akan berkumpul di sekolah2 favorit dan sebaliknya peserta didik dengna nilai pas2an akan bersekolah di sekolah2 yang dianggap tidak favorit. Eksklusifisme pendidikan dalam pendidikan dasar menurut saya merupakan hal yang harus dihindari untuk memajukan kualitas pendidikan di indonesia. Jika begini caranya maka siswa dengan kemampuan pas2an akan kurang berkembang. Solusi yang tepat menurut saya adalah quota per range nilai dan pen-zonaan area cakupan sekolah. Misal Zona SMPN 1 Jogja adalah wilayah terban, sagan, bulaksumur dan sekitarnya, sehingga SMPN 1 agar mengutamakan penerimaan siswa dari daerah tersebut. Kemudian diterapkan quota range nilai, di kodya yogya persebaran nilai adalah sebagai berikut : 25% : 25-30; 40% : 20-24.99; 35% : <19.99. Maka sistem penerimaan siswa pun bisa dilakukan atas dasar range nilai tersebut, misal SMPN1 hanya akan menerima 25% dari total siswa baru dengan range nilai 25-30. Sehingga bobot setiap sekolah akan sama dan merata.

Tapi sudah lah, jangan diambil pusing, lha wong itu cuma pemikiran saya yang prihatin dengan masa depan pendidikan di Indonesia.

Pagi ini, sembari nungguin nasi buat sarapan mateng, iseng2 nonton TV ditempat Bapak mertua. Ada berita yang menarik, seputar upaya Pemda dan Pemkot DKI untuk menahan laju urbanisasi di Jakarta. Pemda dan Pemkot DKI menggelar operasi Yustisi secara serentak di lima wilayah DKI, targetnya adalah para pendatang yang tidak memiliki KTP Jakarta. Intinya untuk bekerja di Jakarta harus punya KTP Jakarta. Trus bagaimana dengan yang sedang mencari pekerjaan di Jakarta? Bukankah setiap warga negara berhak atas penghidupan yang layak?

Menurut saya operasi Yustisi hanya boleh dilakukan untuk menindak warga masyarakat yang tidak memiliki KTP saja. Bukan masalah KTP Jakarta ataupun KTP luar Jakarta.

Kembali ke berita yang saya liat di TV, seorang pedagang asongan terjaring operasi tersebut, kemudian langsung disidang dan di putus denda sebesar 20rb. Padahal untuk seorang pedagan asongan uang 20rb bukanlah uang yang sedikit, dan dia pun punya KTP, meski bukan KTP Jakarta. Kemudian ditampilkan juga suasana operasi yustisi di kost2an cewek, banyak dari mereka yang ber-KTP daerah seputaran Jakarta seperti Bogor dan Bekasi. Mereka nge-kost agar dekat dengan tempat kerja, apakah ini salah?

Buat bang kumis, mending sampeyan mikirin solusi yang cocok buat kaum urban ini.

Hampir semua orang, terutama di kota-kota besar memilikinya, mulai dari anak kecil hingga dewasa.
Mulai dari yang model biasa saja sampai ke model yang Hi-Tech. Handphone yang di bawa oleh para pelajar sedikit banyak telah mempengaruhi kualitas kegiatan belajar mengajar di sekolah ( SD, SMP, SMU ). Handphone juga disinyalir sebagai media penyebaran paling efektif klip-klip porno di kalangan pelajar.
Tingkat kecanggihan HP pun menjadi simbol sosial di kalangan pelajar, semakin keren HP yang mereka bawa, semakin dianggap gaul lah mereka.
Lantas bagaimana barang sekecil itu bisa mengganggu kualitas belajar mengajar ??
Mari kita ambil ilustrasi seperti ini :
Hampir di semua sekolah melarang penggunaan Handphone saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, tapi siswa tak kalah cerdiknya dengan mengaktifkan mode silent di hp-nya. Saat pelajaran berlangsung tiba-tiba bergetarlah hp di kantung celananya,
“Wah ada SMS nih, dari siapa ya?”
Pada saat itu konsentrasi si siswa menurun hingga 90%.
Sesaat kemudian dia merogoh saku celananya meraih hp, dan memasukkannya ke laci meja.
Sampai di sini konsentrasi siswa telah turun hingga 80%.
Kemudian dia membaca SMS yang masuk dengan diam-diam.
“Sayang, pulang sekolah kita ke Mall yuk”
Akhirnya konsentrasi si siswa pun anjlok menjadi 10% 😀
Angannya mulai terbang, membayangkan sepulang sekolah nanti.

*Jeritan hati pegawai biasa yang HP-nya cuma bisa buat nelpon sama sms doang

bismillahirrahmaanirrahiim

 

Telah menjadi bahan perdebatan di antara beberapa pihak dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan, dan perbedaan tersebut menurut saya bukanlah berkah, karena akan menjadikan perselisihan di antara umat. Perbedaan ini dikarenakan sistem penentuan awal bulan yang berbeda ( ru’yatul hilal vs hisab).

almaidah ayat 3

 

 

 

 

 

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu (QS. 5 : 3) (lebih…)

Laman Berikutnya »