Ramadhan telah datang menghampiri kita, kembali kita terlarut dalam kesibukan peribadatan di dalam bulan yang mulia ini. Dulu semasa menjadi mahasiswa, bulan ramadhan adalah bulan yang penuh barakah bagi kami para mahasiswa dari golongan menengah ke bawah. Di bulan ramadhan waktu itu kami bisa menghemat hampir 50% lebih dari budget bulanan kami, meskipun untuk ukuran Yogyakarta waktu itu biaya hidup sehari2 masih tergolong murah. Karena di hampir setiap masjid selalu menyediakan menu takjil untuk berbuka puasa. Menu takjil itupun sangat variatif dari masjid ke masjid.

Bagi yang tinggal dilingkungan UGM mungkin masih ingat buka puasa bersama di gelanggang ugm, meskipun menu sangat sederhana (kadang ikan, kadang secuil telor) namun sangat bermakna. Jika menginginkan menu yang lebih bisa datang ke masjid2 yang cukup besar seperti masjid syuhada.

Berbeda dengan ketika menjadi mahasiswa, ketika telah berkeluarga anggaran belanja keluarga yang seharusnya juga turun (karena puasa) malah justru naik ± 25%. Karena harga kebutuhan pokok telah naik menjelang bulan ramadhan. Saya yang bodoh ekonomi ini tidak habis pikir, kenapa disaat orang mengurangi kebutuhannya justru harga malah naik ? Bukankah hukum ekonomi menyatakan harga kebutuhan berbanding lurus dengan permintaan ? Apakah permintaan justru naik di bulan Ramadhan ?

Menjelang bulan ramadhan, pemerintah telah menyatakan stok sembako untuk bulan ramadhan dinyatakan cukup. Berarti paling tidak pemerintah sudah mengantisipasi adanya kemungkinan permintaan yang naik di bulan ramadhan. Namun kenyataannya stok yang cukup tersebut tidak dapat mengantisipasi naiknya harga kebutuhan pokok di bulan ramadhan.  Masyarakat juga nampaknya sudah biasa menghadapi naiknya harga sembako di bulan ramadhan.  Masalahnya adalah kenapa harga sembako harus naik ? 😀

MisterPopo ngaturaken sugeng siyam …  Happy Fasting!

Iklan

Dalam euforia Ramadhan ini semua stasiun TV berlomba-lomba bersaing memberikan tayangan2  terutama saat menjelang berbuka dan sahur.  Baik itu berupa pengajian, kuis, sinetron, reality show dan sebagainya. Namun hampir sebagian besar dari acara2 tersebut secara langsung telah mencoreng makna Ramadhan itu sendiri. Karena hampir sebagian besar dari acara tersebut menggunakan pemeran banci (laki2 yang bertingkah menyerupai wanita) dengan dalih hiburan.

Alih-alih sebagai hiburan justru hal tersebut merupakan perilaku yang dilaknat oleh Allah SWT dan rasullullah SAW. Sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Ibnu Abbas RA bahwasanya “Rasulullah SAW telah melaknat para lelaki yang menyerupai para wanita dan [melaknat] para wanita yang menyerupai para lelaki.” (la’ana rasulullah SAW al-mutasyabbihiina min ar-rijaal bi an-nisaa` wa al-mutasyabbihaat min an-nisaa` bi ar-rijaal). (HR Ahmad dalam Musnad Imam Ahmad Juz I hal. 227 & 339, dan HR al-Bukhari Shahih al-Bukhari hadits no. 5886 & 6834). (Imam Syaukani, Nailul Authar, [Dar Ibn Hazm : Beirut, 2000], hal. 1306).

Tasyabbuh dalam hadist di atas adalah menyerupai jenis lain dalam segala hal (berbicara, berpakaian, berjalan, dsb) yang memang menjadi ciri khas jenis lain tersebut. Misalnya laki-laki memakai pakaian yang secara khusus dipakai wanita saja, semisal daster, rok, kebaya, kerudung (khimar), jilbab (jubah), dan sebagainya. Atau misalnya laki-laki memakai anting-anting, cincin emas, memakai kain sutera, dan sebagainya. Atau sebaliknya, perempuan memakai pakaian yang secara khusus dipakai laki-laki saja, misalnya perempuan memakai celana panjang khas laki-laki, atau memakai sepatu khas laki-laki, tas khas laki-laki, dan sebagainya. Dan jelas hukumnya adalah haram.

Para artis yang berperilaku kebanci-bancian tersebut telah tarlaknat begitu pula PH (production house) dan stasiun TV yang menayangkannya. Sudah seharusnya tayangan-tayangan tersebut dihapuskan, karena selain menyalahi syariat juga merusak moral generasi penerus bangsa. Karena jika tayangan seperti itu terus menerus di tayangkan akan menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu hal yang biasa di masyarakat. Dan anak-anak pun pada akhirnya akan cenderung meniru perilaku tersebut.

Menurut syariat Islam laki-laki yang berperilaku seperti perempuan, atau perempuan yang berperilaku seperti laki-laki, wajib diusir dan dikucilkan dari masyarakat ramai. Ini merupakan jenis sanksi ta’zir yang dijatuhkan  atas mereka. Dalam satu riwayat Ibnu Abbas RA meriwayatkan Nabi SAW telah melaknat laki-laki banci (mukhannats) yang berlagak seperti perempuan dan perempuan yang berlagak seperti laki-laki. Bahkan Nabi SAW mengatakan :
“Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian.” (akhrijuuhum min buyuutikum). Maka Nabi SAW telah mengeluarkan si Fulan, dan Umar pun pernah mengeluarkan si Fulan. (HR Ahmad dan Bukhari). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1306).

Sebagai umat islam sudah seharusnya kita mengisi Ramadhan ini dengan beribadah agar kita menjadi orang2 yang bertakwa. Jauhi tayangan2 yang merusak dan menodai Islam, serukan kepada khalayak ramai. Semoga kita terhindar dari azab yang ditimpakan Allah atas hal tersebut.